Saturday, April 1, 2017

Donor darah yang berbeda

Kurang 1 hari lagi Mas untuk bisa donor.

Suara itu menyentak lamunanku.

Terik matahari tak sepanas 2 - 3 jam yang lalu, hingga akhirnya aku memutuskan untuk donor darah di PMI ini. Rasanya sudah lama sekali aku tak kesini (karena memang belum waktunya donor sih, hehe), kesalahanku adalah memang tak memeriksa tanggal waktu donor berikutnya.

Kalau donor hari ini gak bisa ya Mba?

Rayuku kepadanya mengingat rumahku yang cukup jauh.

Gak bisa Mas, datang lagi besok ya.”


***

Akhirnya aku memutuskan kembali setelah dua hari yang lalu karena penolakan (memang salah sendiri gak cek tanggal waktu donor). Kali ini adalah donor yang ke-14ku

Tinggi dan berat badan berapa Mas?”

178 dan 67 Mas.”

Kali ini yang melayani receptionist pria.

Ok, tunggu dipanggil ya.”

Ok, makasih.” ujarku sambil pergi dan mencari tempat duduk.

Sambil menunggu dipanggil untuk periksa tekanan darah, aku memutuskan mengeluarkan hpku untuk sekedar check notif. Tak lama setelah itu terdengar suara anak kecil memecah keheningan ruang tunggu.

Papaa...” ujar anak kecil disertai ketawa jahilnya.

Teriakan anak kecil itu menjadi pusat perhatian semua orang yang sedang menunggu di ruangan itu. Aku yang baru mendengarnya sontak menengok ke arah suara tersebut, tetapi sayangnya terhalang orang-orang yang duduk disampingnya.

(Memanggil nama temannya) sini deh..” ujar seorang perempuan di sebelahku sambil berbisik-bisik dengan temannya.

Aku melanjutkan check hpku hingga erangan anak kecil itu terdengar lagi dan terus berulang setidaknya tiap 5 menit sekali. Aku mulai menyadari ada yang berbeda dengan anak tersebut dan seketika itu pula aku memahaminya. Yang membuat ruangan sedikit tak nyaman ketika setiap pendaftar baru yang datang tak tau tentang pendonor “special”  itu yang membuat mereka menengok dan membicarakan hal tersebut.

***

Defri.” Dokter akhirnya memanggil nama pendonor melalui mic untuk masuk ke dalam ruangan untuk check tekanan darah.

Aku melihat seorang anak dengan muka yang dapat dikatakan “khas” masuk didampingi oleh papanya yang bermuka oriental dengan slant-eyed, aku yakin anak itu yang dari tadi jadi pusat perhatian di ruangan ini.

Fikri Andra.” dokter akhirnya memanggil namaku setelah jeda 1 nama dari anak tersebut.

Hari telah semakin sore, rasanya sudah hampir satu jam aku menunggu. Tak lama setelah itu aku melihat seorang wanita paruh baya menenteng sesuatu melewati lorong tempat menunggu, dan berjalan menuju anak tersebut.

Hai Defriii..”

“Omaa…” ujarnya sambil diikuti tawaan

Dia begitu kegirangan melihat wanita yang dipanggilnya oma itu. Hampir seluruh mata seisi ruangan menyaksikan momen tersebut. Aku yang melihatnya pun hanya terdiam. Wanita itu hanya mampir sebentar setelah itu pergi kembali.

Aku selalu berfikir jika ada orang tua memiliki anak dengan kebutuhan khusus akan jarang mengajak anak tersebut beraktivitas di luar rumah dengan alasan takut anak  tersebut sulit diatur atau bahkan malu. Tapi, tidak dengan hari ini yang aku baru saja lihat. Papanya dengan sangat baik mendengarkan apa yang anaknya bicarakan dan sesekali mengajaknya bicara. Dia juga murah senyum dan sangat ramah.

(Defri dengan papanya)

***

Defri dan papanya masuk ke dalam ruang donor darah. Tak lama setelah itu aku pun masuk dan kebetulan duduk berhadapan dengan keduanya yang telah setengah jalan lebih dahulu.

Defri tinggal dimana? Defri liburan nggak? Etc.” ujar suster dengan pertanyaan-pertanyaan lainnya.

Disitu Defri menjawab semua pertanyaan suster tersebut dengan lancar, kadang pula dibantu jawab oleh papanya. Over all Defri tak separah anak-anak kebutuhan khusus lainnya, meski dia selalu tertawa sendiri ketika menyebut nama papanya. Ternyata aku baru menyadari, bahwa setiap anak dengan berkebutuhan khusus memang tidak dapat disamakan semua, mungkin bisa dikatakan level dari yang cukup parah hingga hampir terlihat sangat normal. Bersyukurlah Defri memiliki papa yang kelihatannya sangat sayang kepadanya, papanya tak begitu menanggapi reaksi orang-orang sekitar ketika Defri asyik tertawa sendirian. Selain itu, aku salut dengan papanya yang mengajak Defri untuk ikut kegiatan positif seperti ini (donor darah). Dan juga, bahkan ketika masuk-dikeluarkan jarum suntik pun dia tak terlihat panik atau brutal.

Suster hebat.” ujar Defri

Hebat apanya..” ujar suster tersebut dengan senyuman ketika mendengar sanjungan tersebut.

Defri selesai lebih dahulu dibanding papanya, setelah itu langsung pindah ke sebelah papanya menununggunya hingga selesai. Seketika suara telepon masuk, Defri menjawab telepon tersebut dan menyatakan kalau dia telah selesai dan sebentar lagi akan menuju tempat yang ia jawab teleponnya.

Akhirnya mereka berdua selesai dan segera berpamitan ke suster yang menanganinya tersebut.


***

No comments:

Post a Comment

Menjadi mandiri meski kekurangan fisik

Baru sampai stasiun di Bandung. Duduk menunggu taxi online yang terjebak macet untuk datang menjemput Mulai tersadar jika kursi di seberang ...