Tuesday, September 5, 2017

Perjalanan singkat menuju Batu, Malang

Di tingkat akhir masa perkuliahan kami di jurusan Administrasi Bisnis, kami diberi kesempatan untuk berkunjung ke beberapa lokasi usaha, dengan tujuan mengasah daya analisa kami, salahsatunya ke Vigour Chips di kota Malang. Vigour Chips merupakan sebuah Usaha Kecil Menengah yang telah berusia hampir 50 tahun, yang dimulai dari tahun 1979, usaha kripik ini berbahan dasar buah dan tidak menggunakan pengawet dan pemanis buatan. Usaha kripik milik H. Moch. Jayadi ini telah mengikuti lomba di tahun 2007, dari hasil lomba tersebut Vigour Chips mendapatkan juara 2 di tingkat kementrian UMKM tingkat nasional.

Pak H. Moch. Jayadi ini tidak mendapat kesempatan pendidikan seperti anak-anak dulu pada umumnya, beliau hanya lulusan sekolah dasar. Pak Jayadi ini memulai usaha tanpa modal sendiri, tetapi beliau dipercaya orang untuk memulai usaha bisnisnya dengan dimodali oleh orang lain dengan hanya memodalkan kebaikan dan kejujuran yang ia berikan. Selain dari itu, Pak Jayadi juga menggunakan seluruh pengalamannya untuk memulai bisnisnya.



Pada awal sebelum memulai usaha bisnisnya, Pak Jayadi bekerja menjadi seorang tukang soldier. Ketika akhirnya berhasil di usaha bisnis kripik buah Vigour Chips, Pak Jayadi memanfaatkan pendapat pelanggan untuk meningkatkan bisnisnya, dengan memahami apa yang konsumen atau pelanggan harapkan.

Saluran produksi dan distribusinya dilakukan di 6 titik, yang keenamnya berada di kota Batu. Dengan usaha yang ditekuninya ini, Pak Jayadi merupakan pelopor kripik buah di Indonesia, karena belum adanya kompetitor, maka Pak Jayadi ini tidak memiliki kesulitan yang berarti dalam menjalankan proses bisnisnya.



Omzet yang didapatnya dari menjual dan memproduksi kripik buah Vigour Chips saja sebanyak Rp 3.6 M pertahun. Cara Vigour Chips ini memasarkan produknya ialah dengan mengisi pameran-pameran kuliner, target utama awalnya bukan untuk menjual habis produknya, tetapi memperkenalkan produk kripik dengan berbahan dasar buah.

Bahan baku yang didapat diambil dari kota Semarang, Jember, Banyuwangi, Probolinggo, dan kota Batu itu sendiri, hasil distribusinya telah tersebar ke seluruh Indonesia dan juga Luar Negeri. Tenaga kerja yang dipekerjakan diprioritaskan mulai dari tetangga, sistem bisnis yang dianut juga merupakan bisnis secara keluarga. Faktor atau titik kritis dari usaha bisnis Vigour Chips ini adalah Mesin, Modal, Gudang, dan Pasar.

Pak Jayadi ini belum memiliki anggaran tetap tiap bulannya, dan laporan keuangan yang terstandar, tetapi telah menggunakan jasa konsultan untuk pajak. Hal baik yang patut dicontoh dari Pak Jayadi ini, semua limbah sampah yang rata-rata ampas dari buah-buahan akan dibuang dan dialokasikan untuk makanan hewan ternak.



Quote: "Dimana mendapatkan kesulitan, disana mendapatkan pengalaman." -H. Moch. Jayadi

December 9, 2014

Sunday, April 2, 2017

Menjadi Warga Dusun Panyingkiran, Desa Mandalare, Kecamatan Panjalu, Ciamis

(Survey lokasi dengan sebagian group)


(Tampak samping kantor desa)


Satu bulan lamanya saya telah merasakan menjadi seorang warga Dusun Panyingkiran, Desa Mandalare. Banyak hal yang diketahui selama tinggal disini, hal utama yang menjadi pusat perhatian adalah sedikitnya keberadaan usia remaja-dewasa. Dan jumlah Sekolah Lanjutan Tingkat Atas yang baru saja berdiri di tahun ini. Dari kasus tersebut, banyak sekali remaja yang kurang menaruh minat untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi karena terkendala jarak yang perlu ditempuh. Tetapi ada juga beberapa siswa yang masih niat untuk melanjutkan studi. Beruntungnya di tahun ini di desa mandalare telah berdiri sebuah MA bernama Bahrul Ulum di salah satu dusun, sehingga siswa-siswi di desa masih memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi dan yang terpenting ialah jaraknya yang tidak terlalu jauh. Karena, untuk melanjutkan sebuah pendidikan yang lebih tinggi di desa mandalare, setidaknya para siswa-siswi harus keluar dari desa dengan perjalanan yang sangat jauh dan biaya yang tidak murah. Hal itu yang membuat kurangnya minat siswa-siswi untuk melanjutkan sekolah mereka.

(Hari pertama masak, simple but worth to eat. ;p)


(Makan malam bersama pertama)


(Madrasah Aliyah (Setingkat SMA) pertama yang berdiri di desa ini & diberi amanat untuk bantu orientasi)

***

Hanya butuh kurang dari satu minggu, saya juga berkesempatan mengobrol dengan warga setempat di hampir seluruh Kepala Dusun (6 Dusun) yang berada di desa ini, banyak yang mengatakan bahwa anak-anak mereka setelah lulus SMA (bahkan adapun yang lulus SMP) yang langsung mengadu nasib ke kota untuk mencari pekerjaan. Berawal dari informasi tersebut penulis mulai berpikir akan bekerja sebagai apa mereka jika hanya berbekal ilmu yang hanya lulusan sekolah menengah itu. Kemungkinan besar pekerjaan yang akan mereka dapatkan ialah kerja yang mengandalkan otot seperti buruh. Padahal, hampir setiap rumah memiliki Kolam Ikan di depan rumahnya dan Tanah Persawahannya ditanami padi atau sayuran yang lainnya, tetapi mereka masih belum memaksimalkan potensi yang mereka miliki. Selain itu, di desa ini banyak sekali bertumbuhan pohon pisang, sehingga beberapa warga terkadang memberikan hasil panen pisangnya ke kami yang sedang kknm.

***

Minggu kedua, saya telah hampir menelusuri keseluruh dusun dan melihat peluang yang mungkin bisa mereka lakukan dengan potensi yang mereka miliki. Salah satu dusun yang telah penulis kunjungi telah memanfaatkan ampas kulit jeruk bali untuk dijadikan sebagai kalua jeruk (manisan kulit jeruk). Beberapa warga di salah satu dusun yang lain juga memanfaatkan tanah yang mereka miliki untuk dijadikan sebagai usaha, yaitu dengan menanam tanaman kopi, kacang, dan labu. Tetapi belum sebesar seperti usaha industri rumahan yang dilakukan kalua jeruk. Meskipun hanya baru terdapat satu industri rumahan di desa mandalare. Hal ini setahap dan sejalan dengan visi yang dimiliki oleh desa yaitu "MENJADI DESA TERMAJU DI BIDANG AGRIBISNIS DI KECAMATAN PANJALU TAHUN 2015". Tetapi, dengan visi yang telah dibuat tersebut, masih saja banyak pemuda yang meninggalkan desa. Sehingga yang tersisa di desa ini hanya remaja dan lanjut usia. Jika demikian, siapa yang dapat menjalankan visi tersebut? Bahkan, perkumpulan karang taruna yang seharusnya pemuda-pemudi yang turun langsung untuk mengurusi segala kepengurusan acara dan kepanitiaan tidak dapat dilibatkan karena minimumnya keberadaan mereka di desa, sehingga yang berperan untuk mengurusi acara yaitu perangkat desa dan orangtua. Contohnya kepanitiaan tahunan acara 17 Agustus Kemerdekaan RI, beruntunglah penulis beserta teman-teman kknm lain berkesempatan untuk membantu jalannya acara tersebut karena program Kuliah Kerja Nyata Mahasiswa jatuh di pertengahan jadwal penulis. Dari situ terlihat masih kurangnya sumber daya manusia yang dimiliki desa untuk membantu menyukseskan acara tersebut.

Untuk pertama kalinya dalam hidup, saya mengikuti upacara pengibaran bendera merah putih 17 Agustus. Sangat kagum melihat antusiasme warga desa yang benar-benar membuat aksesori dan ornamen yang melambangkan kemerdekaan, dan menghias seluruh dusun sehingga atmosfir 17 Agustus benar-benar terasa. Hal ini benar-benar berbeda yang dirasakan selama tinggal dan merayakan acara 17 Agustus di Kota. Saya sangat bangga karena telah merasakan pengalaman berharga seperti ini, melihat sebuah perspektif baru tentang hidup dalam sudut pandang warga desa. Ini merupakan hadiah yang didapat oleh penulis selama berkuliah di Universitas Padjadjaran atau universitas negeri lain yang merasakan program kknm, sangat disayangkan universitas lain seperti swasta belum merasakan hal seperti ini, bersimpati dan berempati terhadap warga desa dan menjalani hidup dari segi pandang mereka.

(Jadi panitia sekaligus juri lomba cerdas cermat, kali ini pesertanya dari beberapa sekolah)


(Kebetulan bertepatan ada yang mau naik haji, ikut pengajian, dan gak lupa juga dapet amplop :p)


(Euphoria event 17 agustus di desa Mandalare. RAME BANGET!)


(Gak cuma jadi juri perlombaan 17 agustus, kita juga jadi juri penilaian dusun)

***

Seandainya saya terlahir dan besar di Desa Mandalare, dengan tanah persawahan yang setiap keluarga miliki, saya akan memanfaatkan pohon buah yang ada dan diolah menjadi Kripik Pisang dengan skala besar, dan mengajak beberapa keluarga dari seluruh dusun melakukan hal yang sama agar Desa Mandalare dapat dikenal sebagai tempat pusat penjualan Kripik Pisang dan meminta dikelola oleh BUMDES (Badan Usaha Milik Desa) agar usaha yang dilakukan dapat berjalan dengan baik. Apapun akan bantu lakukan demi perekonomian warga desa ini untuk menjadi lebih maju. Sehingga seluruh pemuda yang berada di desa tidak perlu jauh-jauh untuk mengadu nasib ke kota yang masih belum pasti akan bekerja apa dengan modal ilmu yang mereka miliki hanya dengan ijazah SMA atau bahkan SMP. Banyak yang berpikir bahwa menjadi seorang yang bekerja mengelola lahan persawahan merupakan pekerjaan rendahan, dan banyak pemuda desa yang tidak menginginkan hal itu. Orangtua mereka mengharapkan anak-anaknya dapat bekerja di kantoran. Padahal pekerjaan itu tidak menjamin kesejahteraan yang cukup untuk membiayai hidup keluarga sampai tua. Solusi yang tepat ialah membuat usaha bisnis dari lahan pertanian. Mengingat bahwa permintaan akan makanan atau camilan tak pernah berhenti.

(Terima kasih bapak-ibu, anak-anak, dan semua warga desa atas pelajaran hidupnya)

***

Jul 28 - Aug 27, 2015

Saturday, April 1, 2017

Donor darah yang berbeda

Kurang 1 hari lagi Mas untuk bisa donor.

Suara itu menyentak lamunanku.

Terik matahari tak sepanas 2 - 3 jam yang lalu, hingga akhirnya aku memutuskan untuk donor darah di PMI ini. Rasanya sudah lama sekali aku tak kesini (karena memang belum waktunya donor sih, hehe), kesalahanku adalah memang tak memeriksa tanggal waktu donor berikutnya.

Kalau donor hari ini gak bisa ya Mba?

Rayuku kepadanya mengingat rumahku yang cukup jauh.

Gak bisa Mas, datang lagi besok ya.”


***

Akhirnya aku memutuskan kembali setelah dua hari yang lalu karena penolakan (memang salah sendiri gak cek tanggal waktu donor). Kali ini adalah donor yang ke-14ku

Tinggi dan berat badan berapa Mas?”

178 dan 67 Mas.”

Kali ini yang melayani receptionist pria.

Ok, tunggu dipanggil ya.”

Ok, makasih.” ujarku sambil pergi dan mencari tempat duduk.

Sambil menunggu dipanggil untuk periksa tekanan darah, aku memutuskan mengeluarkan hpku untuk sekedar check notif. Tak lama setelah itu terdengar suara anak kecil memecah keheningan ruang tunggu.

Papaa...” ujar anak kecil disertai ketawa jahilnya.

Teriakan anak kecil itu menjadi pusat perhatian semua orang yang sedang menunggu di ruangan itu. Aku yang baru mendengarnya sontak menengok ke arah suara tersebut, tetapi sayangnya terhalang orang-orang yang duduk disampingnya.

(Memanggil nama temannya) sini deh..” ujar seorang perempuan di sebelahku sambil berbisik-bisik dengan temannya.

Aku melanjutkan check hpku hingga erangan anak kecil itu terdengar lagi dan terus berulang setidaknya tiap 5 menit sekali. Aku mulai menyadari ada yang berbeda dengan anak tersebut dan seketika itu pula aku memahaminya. Yang membuat ruangan sedikit tak nyaman ketika setiap pendaftar baru yang datang tak tau tentang pendonor “special”  itu yang membuat mereka menengok dan membicarakan hal tersebut.

***

Defri.” Dokter akhirnya memanggil nama pendonor melalui mic untuk masuk ke dalam ruangan untuk check tekanan darah.

Aku melihat seorang anak dengan muka yang dapat dikatakan “khas” masuk didampingi oleh papanya yang bermuka oriental dengan slant-eyed, aku yakin anak itu yang dari tadi jadi pusat perhatian di ruangan ini.

Fikri Andra.” dokter akhirnya memanggil namaku setelah jeda 1 nama dari anak tersebut.

Hari telah semakin sore, rasanya sudah hampir satu jam aku menunggu. Tak lama setelah itu aku melihat seorang wanita paruh baya menenteng sesuatu melewati lorong tempat menunggu, dan berjalan menuju anak tersebut.

Hai Defriii..”

“Omaa…” ujarnya sambil diikuti tawaan

Dia begitu kegirangan melihat wanita yang dipanggilnya oma itu. Hampir seluruh mata seisi ruangan menyaksikan momen tersebut. Aku yang melihatnya pun hanya terdiam. Wanita itu hanya mampir sebentar setelah itu pergi kembali.

Aku selalu berfikir jika ada orang tua memiliki anak dengan kebutuhan khusus akan jarang mengajak anak tersebut beraktivitas di luar rumah dengan alasan takut anak  tersebut sulit diatur atau bahkan malu. Tapi, tidak dengan hari ini yang aku baru saja lihat. Papanya dengan sangat baik mendengarkan apa yang anaknya bicarakan dan sesekali mengajaknya bicara. Dia juga murah senyum dan sangat ramah.

(Defri dengan papanya)

***

Defri dan papanya masuk ke dalam ruang donor darah. Tak lama setelah itu aku pun masuk dan kebetulan duduk berhadapan dengan keduanya yang telah setengah jalan lebih dahulu.

Defri tinggal dimana? Defri liburan nggak? Etc.” ujar suster dengan pertanyaan-pertanyaan lainnya.

Disitu Defri menjawab semua pertanyaan suster tersebut dengan lancar, kadang pula dibantu jawab oleh papanya. Over all Defri tak separah anak-anak kebutuhan khusus lainnya, meski dia selalu tertawa sendiri ketika menyebut nama papanya. Ternyata aku baru menyadari, bahwa setiap anak dengan berkebutuhan khusus memang tidak dapat disamakan semua, mungkin bisa dikatakan level dari yang cukup parah hingga hampir terlihat sangat normal. Bersyukurlah Defri memiliki papa yang kelihatannya sangat sayang kepadanya, papanya tak begitu menanggapi reaksi orang-orang sekitar ketika Defri asyik tertawa sendirian. Selain itu, aku salut dengan papanya yang mengajak Defri untuk ikut kegiatan positif seperti ini (donor darah). Dan juga, bahkan ketika masuk-dikeluarkan jarum suntik pun dia tak terlihat panik atau brutal.

Suster hebat.” ujar Defri

Hebat apanya..” ujar suster tersebut dengan senyuman ketika mendengar sanjungan tersebut.

Defri selesai lebih dahulu dibanding papanya, setelah itu langsung pindah ke sebelah papanya menununggunya hingga selesai. Seketika suara telepon masuk, Defri menjawab telepon tersebut dan menyatakan kalau dia telah selesai dan sebentar lagi akan menuju tempat yang ia jawab teleponnya.

Akhirnya mereka berdua selesai dan segera berpamitan ke suster yang menanganinya tersebut.


***

Menjadi mandiri meski kekurangan fisik

Baru sampai stasiun di Bandung. Duduk menunggu taxi online yang terjebak macet untuk datang menjemput Mulai tersadar jika kursi di seberang ...