“Minggu depan berangkat pendidikan ya.”
Suara tersebut seketika membuatku berhenti dari tugas yang sedang ku kerjakan di mejaku. Rasanya telah lebih dari 1.5 tahun yang lalu sejak aku diberi pendidikan ke Jakarta,
“Pendidikan apa dan berapa hari?” Ucapku dengan nada penasaran dan bercampur senang mendengar berita itu.
Dia menjelaskan dengan detail mengenai waktu dan tempat selama pendidikan aku nanti. Ini merupakan kesempatan baik yang bisa aku manfaatkan untuk belajar di bidang terbaruku, sebelumnya aku pernah diberi pendidikan juga namun berbeda dengan apa yang saat ini ku kerjakan. Aku mulai membayangkan agenda apa saja yang bisa aku lakukan nanti selain proses belajar-mengajar dalam kelas itu, aku mulai memberi kabar teman-temanku disana untuk membuat janji setibanya disana nanti.
***
Tak lama lagi akan tiba di stasiun, aku sangat bersyukur karena hari cerah dan udara yang sangat sejuk. Ibuku bangun lebih awal hanya untuk mengantarkan aku ke Stasiun dan hebatnya lagi dia menolak untuk aku setirkan selama perjalanan menuju stasiun itu.
“Bu, aku pamit pergi ya.” sambil memeluk Ibuku di stasiun itu.
Waktu masih menunjukan pukul 6 pagi, masih ada sekitar 1 jam lagi untuk kereta ku berangkat menuju kota yang akan aku datangi. Hiburanku sangat sederhana, sembari menunggu masuk kereta, aku berkeliling mencari-cari sarapan di stasiun, dan akhirnya aku memutuskan untuk memakan roti dan biskuit.
Kursi penumpang sebelahku akhirnya datang, perempuan yang usianya hampir sebaya denganku bersusah payah menaikkan kopernya ke atas tempat penyimpanan itu tetapi gagal, akhirnya aku bantu untuk menaikkannya dengan cepat. Ternyata dia bersama dengan temannya, tetapi karena terhalang olehku akhirnya di setiap pembicaraan mereka selalu memajukan bahunya.
“Mba, barangkali mau bertukar kursi biar enak ngobrolnya?” Ucapku ke teman perempuan yang berada di seberang kursiku.
“Wah boleh Mas, terima kasih ya.” Balas temannya itu seraya kita berdua saling bertukar kursi.
Akhirnya kursiku telah berpindah dan bersebelahan dengan Ibu separuh baya yang ku fikir umurnya tidaklah jauh dengan usia Ibuku. Dia menyambut perpindahanku dengan senyum yang sangat hangat.
“Bu, saya ikut pindah kesini ya, kasian Mbanya kurang enak ngobrol dengan temannya..” Ucapku kepada Ibu itu
“Iya gak apa-apa, kasian juga ngobrolnya tadi.. Mas orang Jakarta ya?” Balasnya memulai percakapan.
Ibu itu datang ke Jakarta untuk menemui kedua anaknya yang bekerja disana, pasangannya (suami) sudah lama tiada sehingga dia hanya tinggal seorang diri di rumahnya, jika ada waktu terkadang anaknya yang datang ke Bandung untuk pulang menemui dia. Tetapi dia lebih menyenangi ke Jakarta karena lebih praktis mengingat kedua anaknya tinggal di 1 tempat yang sama yaitu sebuah apartemen dengan fasilitas 2 kamar sehingga setiap malam ketika kedua anaknya pulang bekerja, mereka semua dapat berkumpul lengkap. Seluruh keuangan Ibunya di support penuh oleh kedua anaknya, dia bercerita jika mengisi waktu di rumah dilakukan sambil membuka usaha toko agar tidak merasa bosan, tetapi hal itu tidak berlangsung lama karena pernah mendapati kecurian barang dagangan dan menyebabkan kedua anaknya khawatir karena toko selalu terbuka lebar untuk penjahat masuk ke rumah Ibunya itu. Mulai dari situ lah kedua anaknya menyarankan dia untuk rutin ke Jakarta, tak tanggung-tanggung sekali menginap bisa 1-2 minggu, bahkan hingga 1 bulan sampai dia merasa bosan.
Anak-anaknya bekerja di BPK dan Perbankan Swasta besar di Indonesia, saya kagum dengan pencapaian kedua anak Ibu itu. Tetapi yang tak kalah kagum adalah kedua anaknya selalu membuat agenda liburan ke Luar Negeri setiap tahunnya. Dia bercerita bagaimana perjalanannya menuju Malaysia-Singapura, suka duka ketika liburan, memilih makanan, belanja oleh-oleh, dan kegiatan lainnya yang dia lakukan bersama kedua anaknya itu. Waktu bersama kedua anaknya merupakan harga yang tidak bisa dibayar. saking perhatiannya kedua anaknya itu, jika waktunya tidak cocok untuk dapat liburan dalam waktu yg dekat, anaknya sengaja menyewa jasa tour dan travel untuk Ibu dan Pamannya (untuk menemani Ibunya) liburan ke Thailand, dan beliau cerita ke-tidak sukaannya terhadap Tom Yum yang asam pedas, haha.
“Mau gak Mas?” Sambil menyodorkan kotak bekal makanan berisi kue
“Wah tidak usah Bu, untuk Ibu saja” ucapku seraya melambaikan tangan menolak tawarannya.
Akhirnya kuenya ku ambil karena Ibu tersebut tidak menerima penolakan, mungkin itu adalah pemberian sederhana yang dapat dia berikan karena telah menemaninya selama perjalanan menuju Jakarta.
“Ini kedua anak Ibu mas” sambil menunjukan foto dari smartphonenya
Terlihat raut wajah bahagia mereka bertiga dalam foto tersebut, aku menebak-nebak itu mungkin ketika mereka sedang berlibur ke Malaysia.
“Wah asyiknya ya” reaksiku saat melihat antusiasnya memperlihatkan foto itu dan betapa senangnya Ibu itu ketika menunjukan smartphonenya.
Tidak lama lagi kereta sampai di stasiun terakhir, 3.5 jam rasanya begitu cepat. Kita terlalu asyik berbicara hingga lupa memperkenalkan satu sama lain. Jika tidak salah tangkap dia bernama Bu Arifin. Hal terakhir yang bisa aku lakukan untuk Ibu itu adalah menurunkan kopernya.
“Terima kasih ya Mas. Ibu duluan ya..” ucapnya disertai senyuman hangatnya.
“Iya sama-sama Bu, hati-hati.” Ucapku dengan senyuman lebar
Terima kasih untuk cerita singkatnya, menjadi perjalanan yang tidak membosankan.
