(Survey lokasi dengan sebagian group)
(Tampak samping kantor desa)
Satu bulan lamanya saya telah merasakan menjadi seorang warga Dusun Panyingkiran, Desa Mandalare. Banyak hal yang diketahui selama tinggal disini, hal utama yang menjadi pusat perhatian adalah sedikitnya keberadaan usia remaja-dewasa. Dan jumlah Sekolah Lanjutan Tingkat Atas yang baru saja berdiri di tahun ini. Dari kasus tersebut, banyak sekali remaja yang kurang menaruh minat untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi karena terkendala jarak yang perlu ditempuh. Tetapi ada juga beberapa siswa yang masih niat untuk melanjutkan studi. Beruntungnya di tahun ini di desa mandalare telah berdiri sebuah MA bernama Bahrul Ulum di salah satu dusun, sehingga siswa-siswi di desa masih memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi dan yang terpenting ialah jaraknya yang tidak terlalu jauh. Karena, untuk melanjutkan sebuah pendidikan yang lebih tinggi di desa mandalare, setidaknya para siswa-siswi harus keluar dari desa dengan perjalanan yang sangat jauh dan biaya yang tidak murah. Hal itu yang membuat kurangnya minat siswa-siswi untuk melanjutkan sekolah mereka.
(Hari pertama masak, simple but worth to eat. ;p)
(Makan malam bersama pertama)
(Madrasah Aliyah (Setingkat SMA) pertama yang berdiri di desa ini & diberi amanat untuk bantu orientasi)
***
Hanya butuh kurang dari satu minggu, saya juga berkesempatan mengobrol dengan warga setempat di hampir seluruh Kepala Dusun (6 Dusun) yang berada di desa ini, banyak yang mengatakan bahwa anak-anak mereka setelah lulus SMA (bahkan adapun yang lulus SMP) yang langsung mengadu nasib ke kota untuk mencari pekerjaan. Berawal dari informasi tersebut penulis mulai berpikir akan bekerja sebagai apa mereka jika hanya berbekal ilmu yang hanya lulusan sekolah menengah itu. Kemungkinan besar pekerjaan yang akan mereka dapatkan ialah kerja yang mengandalkan otot seperti buruh. Padahal, hampir setiap rumah memiliki Kolam Ikan di depan rumahnya dan Tanah Persawahannya ditanami padi atau sayuran yang lainnya, tetapi mereka masih belum memaksimalkan potensi yang mereka miliki. Selain itu, di desa ini banyak sekali bertumbuhan pohon pisang, sehingga beberapa warga terkadang memberikan hasil panen pisangnya ke kami yang sedang kknm.
***
Minggu kedua, saya telah hampir menelusuri keseluruh dusun dan melihat peluang yang mungkin bisa mereka lakukan dengan potensi yang mereka miliki. Salah satu dusun yang telah penulis kunjungi telah memanfaatkan ampas kulit jeruk bali untuk dijadikan sebagai kalua jeruk (manisan kulit jeruk). Beberapa warga di salah satu dusun yang lain juga memanfaatkan tanah yang mereka miliki untuk dijadikan sebagai usaha, yaitu dengan menanam tanaman kopi, kacang, dan labu. Tetapi belum sebesar seperti usaha industri rumahan yang dilakukan kalua jeruk. Meskipun hanya baru terdapat satu industri rumahan di desa mandalare. Hal ini setahap dan sejalan dengan visi yang dimiliki oleh desa yaitu "MENJADI DESA TERMAJU DI BIDANG AGRIBISNIS DI KECAMATAN PANJALU TAHUN 2015". Tetapi, dengan visi yang telah dibuat tersebut, masih saja banyak pemuda yang meninggalkan desa. Sehingga yang tersisa di desa ini hanya remaja dan lanjut usia. Jika demikian, siapa yang dapat menjalankan visi tersebut? Bahkan, perkumpulan karang taruna yang seharusnya pemuda-pemudi yang turun langsung untuk mengurusi segala kepengurusan acara dan kepanitiaan tidak dapat dilibatkan karena minimumnya keberadaan mereka di desa, sehingga yang berperan untuk mengurusi acara yaitu perangkat desa dan orangtua. Contohnya kepanitiaan tahunan acara 17 Agustus Kemerdekaan RI, beruntunglah penulis beserta teman-teman kknm lain berkesempatan untuk membantu jalannya acara tersebut karena program Kuliah Kerja Nyata Mahasiswa jatuh di pertengahan jadwal penulis. Dari situ terlihat masih kurangnya sumber daya manusia yang dimiliki desa untuk membantu menyukseskan acara tersebut.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, saya mengikuti upacara pengibaran bendera merah putih 17 Agustus. Sangat kagum melihat antusiasme warga desa yang benar-benar membuat aksesori dan ornamen yang melambangkan kemerdekaan, dan menghias seluruh dusun sehingga atmosfir 17 Agustus benar-benar terasa. Hal ini benar-benar berbeda yang dirasakan selama tinggal dan merayakan acara 17 Agustus di Kota. Saya sangat bangga karena telah merasakan pengalaman berharga seperti ini, melihat sebuah perspektif baru tentang hidup dalam sudut pandang warga desa. Ini merupakan hadiah yang didapat oleh penulis selama berkuliah di Universitas Padjadjaran atau universitas negeri lain yang merasakan program kknm, sangat disayangkan universitas lain seperti swasta belum merasakan hal seperti ini, bersimpati dan berempati terhadap warga desa dan menjalani hidup dari segi pandang mereka.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, saya mengikuti upacara pengibaran bendera merah putih 17 Agustus. Sangat kagum melihat antusiasme warga desa yang benar-benar membuat aksesori dan ornamen yang melambangkan kemerdekaan, dan menghias seluruh dusun sehingga atmosfir 17 Agustus benar-benar terasa. Hal ini benar-benar berbeda yang dirasakan selama tinggal dan merayakan acara 17 Agustus di Kota. Saya sangat bangga karena telah merasakan pengalaman berharga seperti ini, melihat sebuah perspektif baru tentang hidup dalam sudut pandang warga desa. Ini merupakan hadiah yang didapat oleh penulis selama berkuliah di Universitas Padjadjaran atau universitas negeri lain yang merasakan program kknm, sangat disayangkan universitas lain seperti swasta belum merasakan hal seperti ini, bersimpati dan berempati terhadap warga desa dan menjalani hidup dari segi pandang mereka.
(Jadi panitia sekaligus juri lomba cerdas cermat, kali ini pesertanya dari beberapa sekolah)
(Kebetulan bertepatan ada yang mau naik haji, ikut pengajian, dan gak lupa juga dapet amplop :p)
(Euphoria event 17 agustus di desa Mandalare. RAME BANGET!)
(Gak cuma jadi juri perlombaan 17 agustus, kita juga jadi juri penilaian dusun)
***
Seandainya saya terlahir dan besar di Desa Mandalare, dengan tanah persawahan yang setiap keluarga miliki, saya akan memanfaatkan pohon buah yang ada dan diolah menjadi Kripik Pisang dengan skala besar, dan mengajak beberapa keluarga dari seluruh dusun melakukan hal yang sama agar Desa Mandalare dapat dikenal sebagai tempat pusat penjualan Kripik Pisang dan meminta dikelola oleh BUMDES (Badan Usaha Milik Desa) agar usaha yang dilakukan dapat berjalan dengan baik. Apapun akan bantu lakukan demi perekonomian warga desa ini untuk menjadi lebih maju. Sehingga seluruh pemuda yang berada di desa tidak perlu jauh-jauh untuk mengadu nasib ke kota yang masih belum pasti akan bekerja apa dengan modal ilmu yang mereka miliki hanya dengan ijazah SMA atau bahkan SMP. Banyak yang berpikir bahwa menjadi seorang yang bekerja mengelola lahan persawahan merupakan pekerjaan rendahan, dan banyak pemuda desa yang tidak menginginkan hal itu. Orangtua mereka mengharapkan anak-anaknya dapat bekerja di kantoran. Padahal pekerjaan itu tidak menjamin kesejahteraan yang cukup untuk membiayai hidup keluarga sampai tua. Solusi yang tepat ialah membuat usaha bisnis dari lahan pertanian. Mengingat bahwa permintaan akan makanan atau camilan tak pernah berhenti.
(Terima kasih bapak-ibu, anak-anak, dan semua warga desa atas pelajaran hidupnya)
***
Jul 28 - Aug 27, 2015
