Monday, September 9, 2024

Menjadi mandiri meski kekurangan fisik

Baru sampai stasiun di Bandung. Duduk menunggu taxi online yang terjebak macet untuk datang menjemput

Mulai tersadar jika kursi di seberang telah diisi oleh blind-couple yang sepertinya telah menghabiskan waktu berdua menggunakan kereta juga.


Terlihat mereka berdua menggunakan jari tangannya dan mendekatkannya ke telinga seperti sedang bernavigasi untuk menelusuri sesuatu. Tidak lama dari itu, seorang gojek datang untuk jemput teman perempuannya, dan driver sampai turun dari motor menjemputnya membantu sampai naik ke atas motor.


Teman lelakinya sempat menyampaikan pesan yang memiliki makna agar pengemudi berhati-hati dan titip temannya hingga tujuan. (Melihat momen itu aku benar-benar terharu dan tersentuh)


Teman perempuannya sudah bersiap jalan dan menyampaikan yang mengisyaratkan "aku pergi duluan" sambil mengarahkan senyum ke wajah teman lelakinya itu (meski arah tujuan wajahnya tidak tepat, namun lelaki itu pun seketika membalas senyuman mendengar pesan tersebut)


Tak lama setelah itu, datang pengemudi yang menjemput lelaki itu. Pengemudi turun dari motor dan melakukan konfirmasi kepada lelaki itu, Dan mereka berdua pergi.


Di momen itu, hanya dapat terkesima dengan kemandirian mereka berdua. Bahkan seorang dengan keterbatasan mampu pergi jauh tanpa rasa khawatir dan tidak menggantungkan hidupnya. Semoga teknologi terus berkembang untuk mewadahi kebutuhan kaum disabilitas.

Friday, August 28, 2020

Double Jaw Surgery experience

source: Google - TMJ


I’ve gone multiple non-surgical alternative to correct my temporomandibular joint (TMJ), I went to many specialists dentists; splint teraphy (Sp.KG) about a half year & having my braces (Sp.Ort) 3 years or so. But the jaw pain and migraines that come along with it. And then my orthodontist suggested that orthognathic surgery would be the only solution to permanently correct the issue. After further research, the ideal age to go through with this type of surgery would before the age of 25, now I’m being 26. My head starts to think the time is just now or never.

***

The Day! An hour before the surgery

I did the surgery on Aug 3, 2020, the surgery runs for 6-7 hours: Waking up, there was nearly no pain in my face, but I had massive headaches the first 2 days, it was really hard to breathe, there’s a lot of swelling going on nasal congestion, and had to spit out a lot of blood clots from the back of my throat on day 2.

Day 4, I can finally go home

I’m allowed to take off the band’s when I eat or brush the teeth, but it’s so important to keep it on because or else the jaw would but really realized but it would regress and go back to its old way, so that the muscles the structure get used to a new jaw formation. When I would open my jaw it made me so lightheaded I almost passed out, I think the muscles were just in shock too haven’t been moving.

***

It’s a big surgery the recoveries involved about 6 weeks to get to where we can go back to life its normal, but the first 2 weeks pretty rough been liquid diet and so that draw back for a lot of patience. The doctors said that swollen proses is about 4 at most 6 weeks or so (depends on your body). When I had my underbite, it was hard to kinda talk, I’ve got bunch of pain in my like muscles back there, cause my jaw kind of off to the side when I bite, that was a little difficult like kinda hard to chewed things properly. Now after the surgery, even bite down now havin my teeth touch together feels so much better

Aug 28, 2020

Thursday, August 27, 2020

Kedua kalinya masuk Ruang OK

Waktu menunjukan pukul 07:00, suasanya rumah sakit begitu sepi, tentu saja karena ini merupakan hari Minggu.

***

Aku dijadwalkan untuk menginap hari ini untuk melakukan orthognathic double jaw surgery pada hari senin pukul 08:00.

*keliling mencari pilihan makanan* akhirnya memutuskan untuk membeli bubur ayam.

***


Tak terasa 45 menit berlalu, bersiap menuju IGD untuk melakukan pendaftaran swab yang telah dijadwalkan pada minggu pukul 08:00 s/d selesai. Prosedur operasi kali ini memang ada yang berbeda, semua pasien yang akan melakukan tindakan operasi harus melalui tes swab dan sebelumnya perlu di isolasi paling cepat 12 jam untuk waktu menunggu hasil. Tes swab pun dilakukan, sebuah alat kecil berbentuk cotton bud namun memiliki ujung seperti sikat yang dimasukan ke dalam lubang hidung dan dinding tenggorokan. Setelah selesai melalukan proses swab tersebut semua pasien langsung diarahkan ke dalam sebuah ruangan yang hanya bersekatkan tirai

*tes swab dimulai pukul 08:00 dan hasil baru keluar positif/ negatif jam 19:30*

Akhirnya mendapat informasi sekitar pukul 7 malam dengan hasil negatif (Thank God!) dan segera dipindahkan ke kamar inap. Tak pernah terbayang selama 12 jam harus berada di ruang isolasi rasanya benar-benar membosankan, pekerjaan yang dapat dilakukan hanya sebatas tidur dan main gadget saga.

Aug 2, 2020

Sunday, April 26, 2020

Pertama kalinya melihat pertunjukan di Marina Bay Sands Theatre Singapore

Sep 9, 2018

Suasana sebelum pertunjukan dimulai

Saat itu aku menonton pertunjukan drama musikal The Lion King. Sebenarnya tidak pernah terfikir olehku akan begitu menikmati pertunjukan yang berdurasi kurang lebih 2 jam tersebut. Jauh sebelumnya tidak pernah ada rencana untuk mengeluarkan biaya sekitar ± S$50 (tergantung kursi yang dipilih), dengan harga saat itu, kursi yang dipilih cukup jauh dari panggung. Maklum tabungan terbatas haha..

***

Jika tidak salah, sebelumnya pertunjukan ini telah tayang di tahun 2011, namun digarap kembali dan bekerjasama dengan Disney Theatrical Productions dan tayang lagi di sekitar bulan Juni 2018. Karena bertema tentang Disney, sudah pasti banyak sekali didominasi oleh kalangan anak-anak yang memenuhi kursi, tapi remaja hingga dewasa pun cukup banyak. Meski alur ceritanya sudah dapat ditebak/ banyak yang tahu, namun sound effect, lightening, dan karakter yang diperankan benar-benar profesional. Masih teringat ketika Mufasa (Ayah Simba) yang akhirnya tewas karena didorong oleh Scar (Saudara kandungnya sendiri) dari tebing. Dan seketika atmosfir dalam satu ruangan itu berubah karena ikut terbawa suasana.

Foto diambil ketika pertunjukan selesai

Betapa banyak sekali jumlah penonton saat itu, meski shownya telah dibuka sejak bulan Juni (3 bulan yang lalu), namun antusias penonton tetap banyak. Tidak jarang juga ada yang sengaja jauh-jauh datang dari luar Singapore hanya untuk melihat pertunjukan ini.
(saya juga mungkin dapat dikatakan ke dalam golongan orang tersebut haha 😅)

Foto di depan pintu masuk

Sunday, October 20, 2019

Perjalanan yang tidak membosankan

“Minggu depan berangkat pendidikan ya.”

Suara tersebut seketika membuatku berhenti dari tugas yang sedang ku kerjakan di mejaku. Rasanya telah lebih dari 1.5 tahun yang lalu sejak aku diberi pendidikan ke Jakarta,

“Pendidikan apa dan berapa hari?” Ucapku dengan nada penasaran dan bercampur senang mendengar berita itu.

Dia menjelaskan dengan detail mengenai waktu dan tempat selama pendidikan aku nanti. Ini merupakan kesempatan baik yang bisa aku manfaatkan untuk belajar di bidang terbaruku, sebelumnya aku pernah diberi pendidikan juga namun berbeda dengan apa yang saat ini ku kerjakan. Aku mulai membayangkan agenda apa saja yang bisa aku lakukan nanti selain proses belajar-mengajar dalam kelas itu, aku mulai memberi kabar teman-temanku disana untuk membuat janji setibanya disana nanti.

***

Tak lama lagi akan tiba di stasiun, aku sangat bersyukur karena hari cerah dan udara yang sangat sejuk. Ibuku bangun lebih awal hanya untuk mengantarkan aku ke Stasiun dan hebatnya lagi dia menolak untuk aku setirkan selama perjalanan menuju stasiun itu.

“Bu, aku pamit pergi ya.” sambil memeluk Ibuku di stasiun itu.

Waktu masih menunjukan pukul 6 pagi, masih ada sekitar 1 jam lagi untuk kereta ku berangkat menuju kota yang akan aku datangi. Hiburanku sangat sederhana, sembari menunggu masuk kereta, aku berkeliling mencari-cari sarapan di stasiun, dan akhirnya aku memutuskan untuk memakan roti dan biskuit.


***

Kursi penumpang sebelahku akhirnya datang, perempuan yang usianya hampir sebaya denganku bersusah payah menaikkan kopernya ke atas tempat penyimpanan itu tetapi gagal, akhirnya aku bantu untuk menaikkannya dengan cepat. Ternyata dia bersama dengan temannya, tetapi karena terhalang olehku akhirnya di setiap pembicaraan mereka selalu memajukan bahunya.

“Mba, barangkali mau bertukar kursi biar enak ngobrolnya?” Ucapku ke teman perempuan yang berada di seberang kursiku.

“Wah boleh Mas, terima kasih ya.” Balas temannya itu seraya kita berdua saling bertukar kursi.

Akhirnya kursiku telah berpindah dan bersebelahan dengan Ibu separuh baya yang ku fikir umurnya tidaklah jauh dengan usia Ibuku. Dia menyambut perpindahanku dengan senyum yang sangat hangat.

“Bu, saya ikut pindah kesini ya, kasian Mbanya kurang enak ngobrol dengan temannya..” Ucapku kepada Ibu itu

“Iya gak apa-apa, kasian juga ngobrolnya tadi.. Mas orang Jakarta ya?” Balasnya memulai percakapan.

Ibu itu datang ke Jakarta untuk menemui kedua anaknya yang bekerja disana, pasangannya (suami) sudah lama tiada sehingga dia hanya tinggal seorang diri di rumahnya, jika ada waktu terkadang anaknya yang datang ke Bandung untuk pulang menemui dia. Tetapi dia lebih menyenangi ke Jakarta karena lebih praktis mengingat kedua anaknya tinggal di 1 tempat yang sama yaitu sebuah apartemen dengan fasilitas 2 kamar sehingga setiap malam ketika kedua anaknya pulang bekerja, mereka semua dapat berkumpul lengkap. Seluruh keuangan Ibunya di support penuh oleh kedua anaknya, dia bercerita jika mengisi waktu di rumah dilakukan sambil membuka usaha toko agar tidak merasa bosan, tetapi hal itu tidak berlangsung lama karena pernah mendapati kecurian barang dagangan dan menyebabkan kedua anaknya khawatir karena toko selalu terbuka lebar untuk penjahat masuk ke rumah Ibunya itu. Mulai dari situ lah kedua anaknya menyarankan dia untuk rutin ke Jakarta, tak tanggung-tanggung sekali menginap bisa 1-2 minggu, bahkan hingga 1 bulan sampai dia merasa bosan.

Anak-anaknya bekerja di BPK dan Perbankan Swasta besar di Indonesia, saya kagum dengan pencapaian kedua anak Ibu itu. Tetapi yang tak kalah kagum adalah kedua anaknya selalu membuat agenda liburan ke Luar Negeri setiap tahunnya. Dia bercerita bagaimana perjalanannya menuju Malaysia-Singapura, suka duka ketika liburan, memilih makanan, belanja oleh-oleh, dan kegiatan lainnya yang dia lakukan bersama kedua anaknya itu. Waktu bersama kedua anaknya merupakan harga yang tidak bisa dibayar. saking perhatiannya kedua anaknya itu, jika waktunya tidak cocok untuk dapat liburan dalam waktu yg dekat, anaknya sengaja menyewa jasa tour dan travel untuk Ibu dan Pamannya (untuk menemani Ibunya) liburan ke Thailand, dan beliau cerita ke-tidak sukaannya terhadap Tom Yum yang asam pedas, haha.


“Mau gak Mas?” Sambil menyodorkan kotak bekal makanan berisi kue

“Wah tidak usah Bu, untuk Ibu saja” ucapku seraya melambaikan tangan menolak tawarannya.

Akhirnya kuenya ku ambil karena Ibu tersebut tidak menerima penolakan, mungkin itu adalah pemberian sederhana yang dapat dia berikan karena telah menemaninya selama perjalanan menuju Jakarta.

“Ini kedua anak Ibu mas” sambil menunjukan foto dari smartphonenya

Terlihat raut wajah bahagia mereka bertiga dalam foto tersebut, aku menebak-nebak itu mungkin ketika mereka sedang berlibur ke Malaysia.

“Wah asyiknya ya” reaksiku saat melihat antusiasnya memperlihatkan foto itu dan betapa senangnya Ibu itu ketika menunjukan smartphonenya.

Tidak lama lagi kereta sampai di stasiun terakhir, 3.5 jam rasanya begitu cepat. Kita terlalu asyik berbicara hingga lupa memperkenalkan satu sama lain. Jika tidak salah tangkap dia bernama Bu Arifin. Hal terakhir yang bisa aku lakukan untuk Ibu itu adalah menurunkan kopernya.

“Terima kasih ya Mas. Ibu duluan ya..” ucapnya disertai senyuman hangatnya.

“Iya sama-sama Bu, hati-hati.” Ucapku dengan senyuman lebar

Bu Arifin

Terima kasih untuk cerita singkatnya, menjadi perjalanan yang tidak membosankan.

Tuesday, September 5, 2017

Perjalanan singkat menuju Batu, Malang

Di tingkat akhir masa perkuliahan kami di jurusan Administrasi Bisnis, kami diberi kesempatan untuk berkunjung ke beberapa lokasi usaha, dengan tujuan mengasah daya analisa kami, salahsatunya ke Vigour Chips di kota Malang. Vigour Chips merupakan sebuah Usaha Kecil Menengah yang telah berusia hampir 50 tahun, yang dimulai dari tahun 1979, usaha kripik ini berbahan dasar buah dan tidak menggunakan pengawet dan pemanis buatan. Usaha kripik milik H. Moch. Jayadi ini telah mengikuti lomba di tahun 2007, dari hasil lomba tersebut Vigour Chips mendapatkan juara 2 di tingkat kementrian UMKM tingkat nasional.

Pak H. Moch. Jayadi ini tidak mendapat kesempatan pendidikan seperti anak-anak dulu pada umumnya, beliau hanya lulusan sekolah dasar. Pak Jayadi ini memulai usaha tanpa modal sendiri, tetapi beliau dipercaya orang untuk memulai usaha bisnisnya dengan dimodali oleh orang lain dengan hanya memodalkan kebaikan dan kejujuran yang ia berikan. Selain dari itu, Pak Jayadi juga menggunakan seluruh pengalamannya untuk memulai bisnisnya.



Pada awal sebelum memulai usaha bisnisnya, Pak Jayadi bekerja menjadi seorang tukang soldier. Ketika akhirnya berhasil di usaha bisnis kripik buah Vigour Chips, Pak Jayadi memanfaatkan pendapat pelanggan untuk meningkatkan bisnisnya, dengan memahami apa yang konsumen atau pelanggan harapkan.

Saluran produksi dan distribusinya dilakukan di 6 titik, yang keenamnya berada di kota Batu. Dengan usaha yang ditekuninya ini, Pak Jayadi merupakan pelopor kripik buah di Indonesia, karena belum adanya kompetitor, maka Pak Jayadi ini tidak memiliki kesulitan yang berarti dalam menjalankan proses bisnisnya.



Omzet yang didapatnya dari menjual dan memproduksi kripik buah Vigour Chips saja sebanyak Rp 3.6 M pertahun. Cara Vigour Chips ini memasarkan produknya ialah dengan mengisi pameran-pameran kuliner, target utama awalnya bukan untuk menjual habis produknya, tetapi memperkenalkan produk kripik dengan berbahan dasar buah.

Bahan baku yang didapat diambil dari kota Semarang, Jember, Banyuwangi, Probolinggo, dan kota Batu itu sendiri, hasil distribusinya telah tersebar ke seluruh Indonesia dan juga Luar Negeri. Tenaga kerja yang dipekerjakan diprioritaskan mulai dari tetangga, sistem bisnis yang dianut juga merupakan bisnis secara keluarga. Faktor atau titik kritis dari usaha bisnis Vigour Chips ini adalah Mesin, Modal, Gudang, dan Pasar.

Pak Jayadi ini belum memiliki anggaran tetap tiap bulannya, dan laporan keuangan yang terstandar, tetapi telah menggunakan jasa konsultan untuk pajak. Hal baik yang patut dicontoh dari Pak Jayadi ini, semua limbah sampah yang rata-rata ampas dari buah-buahan akan dibuang dan dialokasikan untuk makanan hewan ternak.



Quote: "Dimana mendapatkan kesulitan, disana mendapatkan pengalaman." -H. Moch. Jayadi

December 9, 2014

Sunday, April 2, 2017

Menjadi Warga Dusun Panyingkiran, Desa Mandalare, Kecamatan Panjalu, Ciamis

(Survey lokasi dengan sebagian group)


(Tampak samping kantor desa)


Satu bulan lamanya saya telah merasakan menjadi seorang warga Dusun Panyingkiran, Desa Mandalare. Banyak hal yang diketahui selama tinggal disini, hal utama yang menjadi pusat perhatian adalah sedikitnya keberadaan usia remaja-dewasa. Dan jumlah Sekolah Lanjutan Tingkat Atas yang baru saja berdiri di tahun ini. Dari kasus tersebut, banyak sekali remaja yang kurang menaruh minat untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi karena terkendala jarak yang perlu ditempuh. Tetapi ada juga beberapa siswa yang masih niat untuk melanjutkan studi. Beruntungnya di tahun ini di desa mandalare telah berdiri sebuah MA bernama Bahrul Ulum di salah satu dusun, sehingga siswa-siswi di desa masih memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi dan yang terpenting ialah jaraknya yang tidak terlalu jauh. Karena, untuk melanjutkan sebuah pendidikan yang lebih tinggi di desa mandalare, setidaknya para siswa-siswi harus keluar dari desa dengan perjalanan yang sangat jauh dan biaya yang tidak murah. Hal itu yang membuat kurangnya minat siswa-siswi untuk melanjutkan sekolah mereka.

(Hari pertama masak, simple but worth to eat. ;p)


(Makan malam bersama pertama)


(Madrasah Aliyah (Setingkat SMA) pertama yang berdiri di desa ini & diberi amanat untuk bantu orientasi)

***

Hanya butuh kurang dari satu minggu, saya juga berkesempatan mengobrol dengan warga setempat di hampir seluruh Kepala Dusun (6 Dusun) yang berada di desa ini, banyak yang mengatakan bahwa anak-anak mereka setelah lulus SMA (bahkan adapun yang lulus SMP) yang langsung mengadu nasib ke kota untuk mencari pekerjaan. Berawal dari informasi tersebut penulis mulai berpikir akan bekerja sebagai apa mereka jika hanya berbekal ilmu yang hanya lulusan sekolah menengah itu. Kemungkinan besar pekerjaan yang akan mereka dapatkan ialah kerja yang mengandalkan otot seperti buruh. Padahal, hampir setiap rumah memiliki Kolam Ikan di depan rumahnya dan Tanah Persawahannya ditanami padi atau sayuran yang lainnya, tetapi mereka masih belum memaksimalkan potensi yang mereka miliki. Selain itu, di desa ini banyak sekali bertumbuhan pohon pisang, sehingga beberapa warga terkadang memberikan hasil panen pisangnya ke kami yang sedang kknm.

***

Minggu kedua, saya telah hampir menelusuri keseluruh dusun dan melihat peluang yang mungkin bisa mereka lakukan dengan potensi yang mereka miliki. Salah satu dusun yang telah penulis kunjungi telah memanfaatkan ampas kulit jeruk bali untuk dijadikan sebagai kalua jeruk (manisan kulit jeruk). Beberapa warga di salah satu dusun yang lain juga memanfaatkan tanah yang mereka miliki untuk dijadikan sebagai usaha, yaitu dengan menanam tanaman kopi, kacang, dan labu. Tetapi belum sebesar seperti usaha industri rumahan yang dilakukan kalua jeruk. Meskipun hanya baru terdapat satu industri rumahan di desa mandalare. Hal ini setahap dan sejalan dengan visi yang dimiliki oleh desa yaitu "MENJADI DESA TERMAJU DI BIDANG AGRIBISNIS DI KECAMATAN PANJALU TAHUN 2015". Tetapi, dengan visi yang telah dibuat tersebut, masih saja banyak pemuda yang meninggalkan desa. Sehingga yang tersisa di desa ini hanya remaja dan lanjut usia. Jika demikian, siapa yang dapat menjalankan visi tersebut? Bahkan, perkumpulan karang taruna yang seharusnya pemuda-pemudi yang turun langsung untuk mengurusi segala kepengurusan acara dan kepanitiaan tidak dapat dilibatkan karena minimumnya keberadaan mereka di desa, sehingga yang berperan untuk mengurusi acara yaitu perangkat desa dan orangtua. Contohnya kepanitiaan tahunan acara 17 Agustus Kemerdekaan RI, beruntunglah penulis beserta teman-teman kknm lain berkesempatan untuk membantu jalannya acara tersebut karena program Kuliah Kerja Nyata Mahasiswa jatuh di pertengahan jadwal penulis. Dari situ terlihat masih kurangnya sumber daya manusia yang dimiliki desa untuk membantu menyukseskan acara tersebut.

Untuk pertama kalinya dalam hidup, saya mengikuti upacara pengibaran bendera merah putih 17 Agustus. Sangat kagum melihat antusiasme warga desa yang benar-benar membuat aksesori dan ornamen yang melambangkan kemerdekaan, dan menghias seluruh dusun sehingga atmosfir 17 Agustus benar-benar terasa. Hal ini benar-benar berbeda yang dirasakan selama tinggal dan merayakan acara 17 Agustus di Kota. Saya sangat bangga karena telah merasakan pengalaman berharga seperti ini, melihat sebuah perspektif baru tentang hidup dalam sudut pandang warga desa. Ini merupakan hadiah yang didapat oleh penulis selama berkuliah di Universitas Padjadjaran atau universitas negeri lain yang merasakan program kknm, sangat disayangkan universitas lain seperti swasta belum merasakan hal seperti ini, bersimpati dan berempati terhadap warga desa dan menjalani hidup dari segi pandang mereka.

(Jadi panitia sekaligus juri lomba cerdas cermat, kali ini pesertanya dari beberapa sekolah)


(Kebetulan bertepatan ada yang mau naik haji, ikut pengajian, dan gak lupa juga dapet amplop :p)


(Euphoria event 17 agustus di desa Mandalare. RAME BANGET!)


(Gak cuma jadi juri perlombaan 17 agustus, kita juga jadi juri penilaian dusun)

***

Seandainya saya terlahir dan besar di Desa Mandalare, dengan tanah persawahan yang setiap keluarga miliki, saya akan memanfaatkan pohon buah yang ada dan diolah menjadi Kripik Pisang dengan skala besar, dan mengajak beberapa keluarga dari seluruh dusun melakukan hal yang sama agar Desa Mandalare dapat dikenal sebagai tempat pusat penjualan Kripik Pisang dan meminta dikelola oleh BUMDES (Badan Usaha Milik Desa) agar usaha yang dilakukan dapat berjalan dengan baik. Apapun akan bantu lakukan demi perekonomian warga desa ini untuk menjadi lebih maju. Sehingga seluruh pemuda yang berada di desa tidak perlu jauh-jauh untuk mengadu nasib ke kota yang masih belum pasti akan bekerja apa dengan modal ilmu yang mereka miliki hanya dengan ijazah SMA atau bahkan SMP. Banyak yang berpikir bahwa menjadi seorang yang bekerja mengelola lahan persawahan merupakan pekerjaan rendahan, dan banyak pemuda desa yang tidak menginginkan hal itu. Orangtua mereka mengharapkan anak-anaknya dapat bekerja di kantoran. Padahal pekerjaan itu tidak menjamin kesejahteraan yang cukup untuk membiayai hidup keluarga sampai tua. Solusi yang tepat ialah membuat usaha bisnis dari lahan pertanian. Mengingat bahwa permintaan akan makanan atau camilan tak pernah berhenti.

(Terima kasih bapak-ibu, anak-anak, dan semua warga desa atas pelajaran hidupnya)

***

Jul 28 - Aug 27, 2015

Saturday, April 1, 2017

Donor darah yang berbeda

Kurang 1 hari lagi Mas untuk bisa donor.

Suara itu menyentak lamunanku.

Terik matahari tak sepanas 2 - 3 jam yang lalu, hingga akhirnya aku memutuskan untuk donor darah di PMI ini. Rasanya sudah lama sekali aku tak kesini (karena memang belum waktunya donor sih, hehe), kesalahanku adalah memang tak memeriksa tanggal waktu donor berikutnya.

Kalau donor hari ini gak bisa ya Mba?

Rayuku kepadanya mengingat rumahku yang cukup jauh.

Gak bisa Mas, datang lagi besok ya.”


***

Akhirnya aku memutuskan kembali setelah dua hari yang lalu karena penolakan (memang salah sendiri gak cek tanggal waktu donor). Kali ini adalah donor yang ke-14ku

Tinggi dan berat badan berapa Mas?”

178 dan 67 Mas.”

Kali ini yang melayani receptionist pria.

Ok, tunggu dipanggil ya.”

Ok, makasih.” ujarku sambil pergi dan mencari tempat duduk.

Sambil menunggu dipanggil untuk periksa tekanan darah, aku memutuskan mengeluarkan hpku untuk sekedar check notif. Tak lama setelah itu terdengar suara anak kecil memecah keheningan ruang tunggu.

Papaa...” ujar anak kecil disertai ketawa jahilnya.

Teriakan anak kecil itu menjadi pusat perhatian semua orang yang sedang menunggu di ruangan itu. Aku yang baru mendengarnya sontak menengok ke arah suara tersebut, tetapi sayangnya terhalang orang-orang yang duduk disampingnya.

(Memanggil nama temannya) sini deh..” ujar seorang perempuan di sebelahku sambil berbisik-bisik dengan temannya.

Aku melanjutkan check hpku hingga erangan anak kecil itu terdengar lagi dan terus berulang setidaknya tiap 5 menit sekali. Aku mulai menyadari ada yang berbeda dengan anak tersebut dan seketika itu pula aku memahaminya. Yang membuat ruangan sedikit tak nyaman ketika setiap pendaftar baru yang datang tak tau tentang pendonor “special”  itu yang membuat mereka menengok dan membicarakan hal tersebut.

***

Defri.” Dokter akhirnya memanggil nama pendonor melalui mic untuk masuk ke dalam ruangan untuk check tekanan darah.

Aku melihat seorang anak dengan muka yang dapat dikatakan “khas” masuk didampingi oleh papanya yang bermuka oriental dengan slant-eyed, aku yakin anak itu yang dari tadi jadi pusat perhatian di ruangan ini.

Fikri Andra.” dokter akhirnya memanggil namaku setelah jeda 1 nama dari anak tersebut.

Hari telah semakin sore, rasanya sudah hampir satu jam aku menunggu. Tak lama setelah itu aku melihat seorang wanita paruh baya menenteng sesuatu melewati lorong tempat menunggu, dan berjalan menuju anak tersebut.

Hai Defriii..”

“Omaa…” ujarnya sambil diikuti tawaan

Dia begitu kegirangan melihat wanita yang dipanggilnya oma itu. Hampir seluruh mata seisi ruangan menyaksikan momen tersebut. Aku yang melihatnya pun hanya terdiam. Wanita itu hanya mampir sebentar setelah itu pergi kembali.

Aku selalu berfikir jika ada orang tua memiliki anak dengan kebutuhan khusus akan jarang mengajak anak tersebut beraktivitas di luar rumah dengan alasan takut anak  tersebut sulit diatur atau bahkan malu. Tapi, tidak dengan hari ini yang aku baru saja lihat. Papanya dengan sangat baik mendengarkan apa yang anaknya bicarakan dan sesekali mengajaknya bicara. Dia juga murah senyum dan sangat ramah.

(Defri dengan papanya)

***

Defri dan papanya masuk ke dalam ruang donor darah. Tak lama setelah itu aku pun masuk dan kebetulan duduk berhadapan dengan keduanya yang telah setengah jalan lebih dahulu.

Defri tinggal dimana? Defri liburan nggak? Etc.” ujar suster dengan pertanyaan-pertanyaan lainnya.

Disitu Defri menjawab semua pertanyaan suster tersebut dengan lancar, kadang pula dibantu jawab oleh papanya. Over all Defri tak separah anak-anak kebutuhan khusus lainnya, meski dia selalu tertawa sendiri ketika menyebut nama papanya. Ternyata aku baru menyadari, bahwa setiap anak dengan berkebutuhan khusus memang tidak dapat disamakan semua, mungkin bisa dikatakan level dari yang cukup parah hingga hampir terlihat sangat normal. Bersyukurlah Defri memiliki papa yang kelihatannya sangat sayang kepadanya, papanya tak begitu menanggapi reaksi orang-orang sekitar ketika Defri asyik tertawa sendirian. Selain itu, aku salut dengan papanya yang mengajak Defri untuk ikut kegiatan positif seperti ini (donor darah). Dan juga, bahkan ketika masuk-dikeluarkan jarum suntik pun dia tak terlihat panik atau brutal.

Suster hebat.” ujar Defri

Hebat apanya..” ujar suster tersebut dengan senyuman ketika mendengar sanjungan tersebut.

Defri selesai lebih dahulu dibanding papanya, setelah itu langsung pindah ke sebelah papanya menununggunya hingga selesai. Seketika suara telepon masuk, Defri menjawab telepon tersebut dan menyatakan kalau dia telah selesai dan sebentar lagi akan menuju tempat yang ia jawab teleponnya.

Akhirnya mereka berdua selesai dan segera berpamitan ke suster yang menanganinya tersebut.


***

Wednesday, May 8, 2013

The best part of Breaking Dawn Part 1

#nowplaying : Flightless Bird, American Mouth. -Iron & Wine


Him : I, Edward Cullen.

Take you, Bella Swan.

To have and to hold.

Her : For better or for worse.

Him : For richer, for poorer.

Her : In sickness and in health.

Him : To love.

Her : To cherish.

As long as we both shall live.

Him : I do.

Her : I do.

Him : I love you.

Her : I love you.

Menjadi mandiri meski kekurangan fisik

Baru sampai stasiun di Bandung. Duduk menunggu taxi online yang terjebak macet untuk datang menjemput Mulai tersadar jika kursi di seberang ...