“Kurang 1 hari lagi Mas untuk bisa donor.”
Suara
itu menyentak lamunanku.
Terik
matahari tak sepanas 2 - 3 jam yang lalu, hingga akhirnya aku memutuskan untuk
donor darah di PMI ini. Rasanya sudah lama sekali aku tak kesini (karena memang
belum waktunya donor sih, hehe), kesalahanku adalah memang tak memeriksa
tanggal waktu donor berikutnya.
“Kalau donor hari ini gak bisa ya Mba?”
Rayuku
kepadanya mengingat rumahku yang cukup jauh.
“Gak bisa Mas, datang lagi besok ya.”
***
Akhirnya
aku memutuskan kembali setelah dua hari yang lalu karena penolakan (memang
salah sendiri gak cek tanggal waktu donor). Kali ini adalah donor yang ke-14ku
“Tinggi dan berat badan berapa Mas?”
“178 dan 67 Mas.”
Kali
ini yang melayani receptionist pria.
“Ok, tunggu dipanggil ya.”
“Ok, makasih.” ujarku sambil pergi dan
mencari tempat duduk.
Sambil
menunggu dipanggil untuk periksa tekanan darah, aku memutuskan mengeluarkan
hpku untuk sekedar check notif. Tak
lama setelah itu terdengar suara anak kecil memecah keheningan ruang tunggu.
“Papaa...” ujar anak kecil disertai
ketawa jahilnya.
Teriakan
anak kecil itu menjadi pusat perhatian semua orang yang sedang menunggu di
ruangan itu. Aku yang baru mendengarnya sontak menengok ke arah suara tersebut,
tetapi sayangnya terhalang orang-orang yang duduk disampingnya.
“(Memanggil nama temannya) sini deh..”
ujar seorang perempuan di sebelahku sambil berbisik-bisik dengan temannya.
Aku
melanjutkan check hpku hingga erangan
anak kecil itu terdengar lagi dan terus berulang setidaknya tiap 5 menit
sekali. Aku mulai menyadari ada yang berbeda dengan anak tersebut dan seketika itu
pula aku memahaminya. Yang membuat ruangan sedikit tak nyaman ketika setiap
pendaftar baru yang datang tak tau tentang pendonor “special” itu yang membuat mereka
menengok dan membicarakan hal tersebut.
***
“Defri.” Dokter akhirnya memanggil nama
pendonor melalui mic untuk masuk ke
dalam ruangan untuk check tekanan
darah.
Aku
melihat seorang anak dengan muka yang dapat dikatakan “khas” masuk didampingi
oleh papanya yang bermuka oriental dengan slant-eyed,
aku yakin anak itu yang dari tadi jadi pusat perhatian di ruangan ini.
“Fikri Andra.” dokter akhirnya memanggil
namaku setelah jeda 1 nama dari anak tersebut.
Hari
telah semakin sore, rasanya sudah hampir satu jam aku menunggu. Tak lama
setelah itu aku melihat seorang wanita paruh baya menenteng sesuatu melewati
lorong tempat menunggu, dan berjalan menuju anak tersebut.
“Hai Defriii..”
“Omaa…” ujarnya sambil diikuti tawaan
Dia
begitu kegirangan melihat wanita yang dipanggilnya oma itu. Hampir seluruh mata
seisi ruangan menyaksikan momen tersebut. Aku yang melihatnya pun hanya
terdiam. Wanita itu hanya mampir sebentar setelah itu pergi kembali.
Aku
selalu berfikir jika ada orang tua memiliki anak dengan kebutuhan khusus akan
jarang mengajak anak tersebut beraktivitas di luar rumah dengan alasan takut
anak tersebut sulit diatur atau bahkan
malu. Tapi, tidak dengan hari ini yang aku baru saja lihat. Papanya dengan
sangat baik mendengarkan apa yang anaknya bicarakan dan sesekali mengajaknya
bicara. Dia juga murah senyum dan sangat ramah.
***
Defri
dan papanya masuk ke dalam ruang donor darah. Tak lama setelah itu aku pun
masuk dan kebetulan duduk berhadapan dengan keduanya yang telah setengah jalan
lebih dahulu.
“Defri tinggal dimana? Defri liburan nggak?
Etc.” ujar suster dengan pertanyaan-pertanyaan lainnya.
Disitu
Defri menjawab semua pertanyaan suster tersebut dengan lancar, kadang pula
dibantu jawab oleh papanya. Over all
Defri tak separah anak-anak kebutuhan khusus lainnya, meski dia selalu tertawa
sendiri ketika menyebut nama papanya. Ternyata aku baru menyadari, bahwa setiap
anak dengan berkebutuhan khusus memang tidak dapat disamakan semua, mungkin
bisa dikatakan level dari yang cukup parah hingga hampir terlihat sangat
normal. Bersyukurlah Defri memiliki papa yang kelihatannya sangat sayang
kepadanya, papanya tak begitu menanggapi reaksi orang-orang sekitar ketika
Defri asyik tertawa sendirian. Selain itu, aku salut dengan papanya yang mengajak Defri untuk ikut kegiatan positif seperti ini (donor darah). Dan juga, bahkan ketika masuk-dikeluarkan jarum
suntik pun dia tak terlihat panik atau brutal.
“Suster hebat.” ujar Defri
“Hebat apanya..” ujar suster tersebut
dengan senyuman ketika mendengar sanjungan tersebut.
Defri
selesai lebih dahulu dibanding papanya, setelah itu langsung pindah ke sebelah
papanya menununggunya hingga selesai. Seketika suara telepon masuk, Defri
menjawab telepon tersebut dan menyatakan kalau dia telah selesai dan sebentar
lagi akan menuju tempat yang ia jawab teleponnya.
Akhirnya
mereka berdua selesai dan segera berpamitan ke suster yang menanganinya
tersebut.
***